Kamis, 28 Maret 2013

Prospek Hubungan Cina-Rusia




Lawatan Presiden baru Cina, Xi Jinping ke Rusia dapat disebut sebagai titik tolak hubungan bilateral kedua negara. Hasil lawatan ini adalah pengokohan strategi kolektif antara Moskow dan Beijing. Kedua pemimpin negara sangat menekankan hal ini di pertemuan mereka.


Pasca perang dingin, hubungan ekonomi, politik dan keamanan antara Rusia dan Cina mengalami laju yang pesat. Di sisi lain, keduanya sama-sama mengejar tujuan internasional dan regional dengan menjaga kebijakan politik masing-masing. Dewasa ini kerjasama Moskow-Beijing khususnya di bidang ekonomi berada di masa-masa puncaknya. Di perundingan antara kedua pemimpin negara ini dibicarakan sejumlah isu penting bilateral di bidang politik, investasi, ekonomi, energi dan teknologi canggih serta isu-isu internasional dan regional.

Presiden Rusia, Vladimir Putin seraya mengisyaratkan hubungan ekonomi dan perdagangan Moskow-Beijing yang terus meningkat menyatakan bahwa dalam waktu dekat volume perdagangan kedua negara akan bertambah hingga ke level 100 miliar dolar. Kedua negara menurut Putin berencana mencapai angka 150 miliar dolar di perdagangan mereka. Sementara itu, Xi Jinping seraya mengisyaratkan lawatannya ke Rusia menyebutnya sangat penting bagi Beijing.

Di pertemuan Jinping dan Putin ditandatangani sekitar 20 dokumen kerjasama dan MoU di berbagai bidang. Statemen bersama pemimpin kedua negara termasuk dokumen kerjasama tersebut yang menekankan kerjasama strategis antara Cina dan Rusia serta hubungan bertetangga yang baik dan upaya untuk memperkokoh sistem multi kutub di dunia.

Selain itu, kedua pemimpin juga menekankan peningkatan kerjasama bilateral dalam koridor organisasi internasional termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Shanghai dan BRICS. Rusia juga optimis meningkatkan ekspor minyaknya ke Cina.
Menurut para pengamat, lawatan presiden Cina ke Moskow menunjukkan tekad kuat pemimpin kedua negara untuk meningkatkan kerjasama bilateral dan oleh karena itu pengokohan hubungan di bawah strategi utama merupakan tujuan dari lawatan ini. Sepertinya lawatan presiden Cina ke Rusia dan kesepakatan yang dicapai akan mendorong kesamaan visi keduanya di berbagai bidang.

Hubungan Rusia dan Cina di tahun-tahun terakhir mengalami peningkatan pesat dan kedua negara juga meningkatkan kerjasamanya baik bilateral maupun multilateral termasuk di organisasi internasional. Rusia dan Cina sama-sama menjadi anggota BRICS yang dibentuk untuk memperluas kerjasama ekonomi di antara anggotanya. Moskow dan Beijing memiliki kesamaan visi di sejumlah isu internasional termasuk krisis Suriah dan kasus nuklir Iran.

Rusia dan Cina sebagai rival utama Amerika Serikat berusaha mencapai sikap kolektif guna menghadapai ancaman militer dan keamanan Washington melalui kerjasama bilateral dan kelompok Shanghai. Kerjasama ini di samping kepentingan kolektif kedua negara untuk menggalang kerjasama militer, juga membuka peluang bagi keduanya untuk menggelar lobi guna menghadapi penempatan sistem anti rudal Amerika di Asia-Pasifik. Apalagi mengingat jika Amerika baru-baru ini menyatakan minatnya untuk menempatkan sistem anti rudalnya di Asia dan Timur Tengah.

Di sisi lain, di sektor militer, Cina berusaha memanfaatkan teknologi canggih Rusia dan menggandengnya menghadapi pergerakan Amerika di Asia Timur. Untuk mensukseskan niatnya tersebut, Beijing  meningkatkan lawatan petinggi keamanan dan menggelar sejumlah manuver perang dengan Moskow serta membeli peralatan militer dari Rusia. Moskow sendiri juga berniat menggandeng Beijing untuk mencegah eskalasi kekuatan militer dan kehadiran Amerika di wilayah sensitif  dan strategis Asia-Pasifik.


IRIB/TheTruthSeekerMedia

Artikel Terkait:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

The Truth Seeker Media Copyright © 2012 | Template created by O Pregador and Modified by Langit Nilai | Powered by Blogger and Herbal Kanker