Senin, 13 Agustus 2012

Bima Straight Side : Kami juga tidak boleh dilarang untuk membawa apa yang kami yakini!




Menjadi salah satu pejuang Islam dalam komunitas underground memang menimbulkan dilema tersendiri. Selain kesiapan mental dalam pribadi para pengusungnya, tak jarang eksistensi mereka disertai penolakan dari kelompok yang tidak suka jikalau agama masuk ke ranah musik atau entertainment.


"Kenapa mencampur-campurkan agama dengan musik?" "Pentingkah pesan religius itu masuk ke komunitas ini?" "Udah lah, jangan sok alim. Urusan agama adalah urusan pribadi. Apa pedulinya lu sama agama gua?" Serta seabrek pertanyaan lainnya sering kali terlontar ketika band-band yang mengusung tema-tema religius tampil di hadapan panggung.

Apa kata vokalis Straight Side tentang pernyataan itu?


Bima, Sang vokalis band metalcore asal Depok, StraightSide, mengaku mengalami dilema serupa. Tapi ia berpandangan bahwa agama tidak pernah bisa lepas dari kehidupan kita.

"Kita butuh keyakinan yang bisa membuat kita selalu damai dan tenteram baik di kala susah maupun senang. Dan keyakinan itu bernama agama, apapun bentuknya"
Ia pernah menyaksikan dengan jelas pada sebuah acara metal. Saat itu, di tengah keramaian, ada salah satu band dari luar kota, naik ke atas panggung, lalu mereka dengan bangga berteriak "Saya seorang satanik!". Bukannya heran, penonton malah menyambut dengan applause meriah. Malah pemandangan ini seakan telah menyetujui keyakinan aneh itu."Saya nggak habis pikir. Bahkan tertawa dalam hati. Kok ada ya orang yang mau dianggap sebagai syetan?" ujar Bima.

Bima juga bercerita, kalau ada seorang sahabatnya  yang juga dengan bangga melakukan tindakan kejahatan. Sebagai contoh, ketika bulan Ramadhan ini, mereka dengan bangga mempertontonkan makan-minum di depan umum. Istilah kata "nantang". Bukan hanya itu, ketika mereka semakin mendekati perilaku setan yang cenderung mengajak orang pada keburukan, berarti semakin "keren" bagi mereka. Mungkin mereka merasa ibadahnya semakin "khusyu" kalau perilakunya semakin kesetanan.


Bima juga bertanya-tanya, apakah gaya hidup anti agama benar-benar sudah merasuki otak mereka? Apa mereka sudah benar-benar menganggap bahwa hal seperti itu salah satu pedoman hidup mereka? Atau sama saja dengan agama baru bernama atheis, satanik hingga tuhan baru bernama hedonisme? Apa mungkin hati mereka benar-benar merasa tenteram dengan paham tersebut?

"Apalagi ini sahabat saya sendiri. Saya harus bagaimana? Kalau saya meninggalkannya, saya turut berdosa. Tapi di sisi lain, saya juga nggak kuat kalau harus ngeladenin cara berpikir mereka"

Bima menyadari hal ini tidak bisa dibiarkan. Masalahnya, kita tahu secara jelas di depan mata kita bahwa hal itu tidak baik. Jika kita meninggalkan mereka, berarti kita lepas tanggung jawab.

"Makannya, kita berusaha mengingatkan orang lain, sekuat tenaga kita dan sesuai dengan ilmu dan pengetahuan kita" jelasnya.
Dalam menulis lagu, Bima tidak pernah main-main pada setiap kata yang ia tuangkan. "Semua punya makna dan cerita" ungkapnya. Lagu berjudul "Straight Side" misalnya, lagu itu banyak berkisah tentang orang yang sedang mencari jalan kebenaran.
"Banyak orang yang terjerumus ke lubang hitam. Ia sadar itu buruk, melawan hati nuraninya. Tapi ia sulit keluar dari lingkaran itu meskipun ia telah berusaha melepaskan diri. Dengan kerisauan itu, maka jadilah lagu ini" jelasnya kepada Underground Tauhid.com

Ia mengaku bahwa kadar imannya juga masih naik-turun. Dengan merendah, Bima mengatakan "Saya bukan ustadz. Saya juga masih banyak belajar".

Tapi dengan beberapa pengalaman hidup yang ia lalui dan perubahan positif yang ia dapatkan sekarang, dalam hatinya ia ingin mengajak orang lain yang memiliki pengalaman yang sama untuk bisa keluar dari masalah dan menemukan jalan kebenaran.

Terkadang ketika ia menulis lirik, ada dilema yang bergejolak di hatinya. Terutama soal beban moral sebagai seorang frontman penyampai pesan-pesan kebaikan.

"Otomatis kalau kita ingin orang lain menjadi baik, kita harus lebih baik dulu, Tapi ia juga menyalahkan, kalau kita menunggu sempurna lalu sampai kapan? Semua disampaikan dengan kadar dan kesiapan masing-masing." tuturnya.

Sebagai kesimpulan dari penjelasan Bima –vokalis StraightSide-  seputar pertanyaan dengan judul di atas, maka akan kita putar logikanya:


"Kok musik ikut-ikutan jadi agama?"


Oke, kalau kita mau musik jadi entertainment saja, maka jangan bawa-bawa anarkisme, komunisme, atheisme, hedonisme, satanisme dan paham-paham nggak bermutu lainnya ke dalam musik. Itu kalau kita mau konsisten. Tapi kalau band-band lain tetap mengusung –isme-isme itu, maka kami juga tidak boleh dilarang untuk membawa apa yang kami yakini. Gampang kan?

There are no rules in this scene, just respect!


Undergroundtauhid/The Truth Seeker Media

Artikel Terkait:

The Truth Seeker Media Copyright © 2012 | Template created by O Pregador and Modified by Langit Nilai | Powered by Blogger and Herbal Kanker