Sabtu, 14 Juli 2012

Perang Resolusi Barat Vs Rusia Terkait Suriah




Alexander A.Pankin, Wakil Pertama Duta Besar Rusia untuk PBB menyatakan bahwa Moskow menyodorkan sebuah draf resolusi kepada Dewan Keamanan PBB yang menuntut perpanjangan tugas para pemantau PBB di Suriah hingga tiga bulan lagi.

Tugas pemantau PBB di Suriah berakhir pada tanggal 21 Juli. Utusan khusus PBB dan Liga Arab Kofi Annan ke Suriah meminta lembaga internasional tersebut untuk menentukan tugas pemantau selanjutnya.


Masa tugas pemantau perdamaian PBB di Suriah yang akan segera berakhir menjadi kesempatan bagi Barat dan sekutunya untuk mempropagandakan bahwa prakarsa perdamaian Annan tidak efisien.
Butir pertama dari prakarsa perdamaian Annan adalah gencatan senjata antara pihak yang terlibat konflik di Suriah dan diakhirinya pertumpahan di negara itu. Sementara peran pemantau PBB adalah untuk mengawasi gencatan senjata tersebut. Namun hingga kini perdamaian dan stabiitas di Suriah belum terwujud.

Kelompok bersenjata di Suriah terus melancarkan kejahatan anti-pemerintah Damaskus dan warga sipil di negara itu, dan pihak-pihak asing juga tak henti-hentinya menyuplai senjata, dana dan dukungan politik kepada mereka guna menggulingkan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.


Nabil El Araby, Sekjen Liga Arab mengatakan, prakarsa perdamaian Kofi Annan telah gagal. Oleh karena itu, kasus Suriah akan dirujuk ke Bab VII Piagam PBB. Dalam bab tersebut disebutkan bahwa dalam beberapa kasus seperti untuk mencegah ancaman terhadap perdamaian, maka PBB dapat mengizinkan untuk mengambil langkah militer.


Sebenarnya, izin PBB untuk intervensi militer di Suriah seperti yang dilakukan di Libya adalah tujuan Barat dan sekutunya di Arab. Draf resolusi yang digelontorkan Rusia adalah upaya diplomatik Kremlin untuk mencegah tujuan Barat tersebut.

Di sisi lain, negara-negara Barat juga menyusun draf resolusi lain. Menurut Pankin, draf resolusi itu didasarkan pada pemberlakukan sanksi terhadap Damaskus dan Moskow. Dengan kata lain, Rusia sebagai penghalang intervensi militer asing di Suriah juga menjadi target tekanan internasional.

Dengan demikian, dunia saat ini tengah menyaksikan perang resolusi Barat dan sekutunya melawan Rusia terkait Suriah. Perang yang terjadi saat  ini masih pada tahap perang di atas kertas, tetapi tidak menutup kemungkinan akan berubah menjadi perang ekonomi dan militer. Jika sanksi yang akan diberlakukan Barat mengancam kepentingan Rusia di Timur Tengah, tampaknya Moskow akan membalasnya dengan draf resolusi baru pula.


IRIB/The Truth Seeker Media


Artikel Terkait:

The Truth Seeker Media Copyright © 2012 | Template created by O Pregador and Modified by Langit Nilai | Powered by Blogger and Herbal Kanker